Program Vokasi Kemenperin dengan SMK Muhammadiyah 4 Jakarta
Melanjutkan Program Pendidikan Vokasi Industri dalam rangka membangun link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri. Kali ini, mengawali tahun 2018, vokasi industri kembali dilakukan di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan Banten. SMK Muhammadiyah 4 Jakarta terpilih sebagai perwakilan Sekolah di DKI Jakarta yang bekerja sama dengan PT. Zyrexindo Mandiri Buana
“Pada kesempatan ini, dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara SMK Muhammadiyah 4 Jakarta dengan perusahaan industri dengan Provinsi DKI Jakarta dan Banten. Sebelumnya, pada tahap pertama untuk wilayah Jawa Timur, Kementerian Perindustrian melibatkan sebanyak 50 perusahaan dan 234 SMK yang diresmikan langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di Mojokerto. Tahap ke-dua, untuk wilayah Jawa Tengah, melibatkan 117 perusahaan dan 392 SMK yang diresmikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy di Semarang. Tahap ke-tiga untuk wilayah Jawa Barat, Kementerian Perindustrian telah melibatkan 141 perusahaan dan 393 SMK yang diresmikan langsung oleh Bapak Presiden Joko Widodo di Bekasi. Sedangkan tahap ke-empat, dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara 108 perusahaan industri dengan 226 SMK di wilayah Sumatera bagian utara.
“Jadi, hingga saat ini, total perusahaan yang terlibat sebanyak 568 industri dan 1.537 SMK,” papar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.
Airlangga menyebutkan bahwa target Kementerian Perindustrian, sampai tahun 2019, sebanyak 1.775 SMK akan dibina dan dikerjasamakan dengan perusahaan industri yang diperkiraan dapat menghasilkan jumlah lulusan tersertifikasi mencapai 845 ribu orang. Untuk itu, setelah provinsi DKI Jakarta dan Banten akan dilanjutkan ke Sumatera bagian selatan (Provinsi Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung dan Lampung).
Selain melalui pengembangan Pendidikan Vokasi Industri, Kementerian Perindustrian telah menyelenggarakan program pelatihan dengan sistem 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan penempatan kerja) dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing tenaga kerja di Indonesia. Hal ini menunjukkan dukungan perusahaan untuk keterpaduan dunia pendidikan dengan industri,” lanjut Airlangga.
Menteri Koordinator Pengembangan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani dalam peluncuran program ke-lima ini mengatakan, pihaknya mengapresiasi program pembinaan dan pengembangan SMK yang link and match dengan industri yang diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian. “Kami berharap semakin banyak perusahaan yang terlibat,” ujarnya.
Dalam program pendidikan vokasi ini, keikutsertaan industri akan mempermudah mereka mendapatkan tenaga kerja yang terampil sesuai dengan kebutuhan masing-masing sektornya di era kompetisi saat ini. “Kemajuan industri nasional yang berdaya saing, perlu didukung oleh putra-putri Indonesia yang profesional dan kompeten, sehingga akan memperkuat perekonomian kita serta meningkatkan kesejahteraan rakyat,” tegas Puan.
“Program ini diharapkan dapat menjadi program yang berkelanjutan, dan dikembangkan di seluruh wilayah Indonesia. Akses bagi industri pun oleh Kementerian Perindustrian dapat diperluas lagi agar dapat memberikan pelatihan praktik, belajar kerja, dan bantuan yang lebih konkrit kepada SMK-SMK di sekitarnya,” tambah Puan.
Saat ini diperlukan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten untuk mendorong peningkatan produktitivas dan daya saing industri nasional. Guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri yang semakin spesifik saat ini, kuncinya adalah pengembangan pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan pasar kerja melalui pembangunan link and match antara dunia pendidikan dengan industri.
