Sertifikasi TIFO-TELKOM untuk Guru SMK Muhammadiyah 4 Jakarta

Dalam rangka meiningkatkan mutu dan daya saing agar mampu bergerak ke revolusi industri 4.0, SMK Muhammadiyah 4 Jakarta menggandeng PT Telkom untuk Mengembangkan Kelas Industri Fiber Optic, dalam persiapannya Sebanyak 6 guru di SMK Muhammadiyah 4 Jakarta mengikuti pelatihan dan sertifikasi Teknisi Instalasi Fiber Optik (TIFO) yang dilaksanakan di Laboratorium Fiber Optics (FO) SMK Muhammadiyah 4 Jakarta.

Kegiatan ini dapat meningkatkan segi kualitas bagi guru yang sekaligus nantinya juga dapat mengantongi sertifikasi. Oleh karenanya, keberuntungan ada pada guru yang mengikuti pelatihan dan sertifikasi ini. Pasalhnya, pemateri/mentor dalam pelatihan tersebut merupakan ahli pada bidangnya masing – masing terkait infrastruktur jaringan yang dibawakakan oleh Bapak Budhi Wahyu Wibawa pakar dalam fiber optic teknologi sedangkan administrasi jaringan yang dibawakan oleh Takeuchi Micheil pakar mengelola administasi jaringan dengan juniper, mikrotik dll. dalam kegiatan ini pula BNSP turut memonitoring Program pelatihan guru kelas TIFO di SMK Muhammadiyah 4 Jakarta, di pelatihan dan sertifikasi ini kami juga hadirkan Telkom TPCC Bandung.

Menguji Kelayakan Redaman Fiber Optic

Proses kegiatan belajar mengajar akan dibuat senyaman mungkin sehingga dapat berjalan dengan baik. Kemudian, kegiatan ini merupakan transfer ilmu teknologi yang harus diserap sehingga nantinya dapat disampaikan kepada peserta didik untuk mempersikan lulusan dalam menghadapi revolusi industri atau yang dikenal dengan 4.0. Connectivity fiber optics ini merupakan yang terbaik di era saat ini. Bisa diibaratkan, dahulu kala kalau jalan masih menggunakan jalur pantura dengan kondisi yang bergelombang, macet dan terkadang banjir maka saat ini sudah ada akses jalan tol. Maka fiber optics ini diibaratkan seperti tol, dapat memberikan akses layanan dengan kecepatan yang sangat tinggi.

KH Ahmad Dahlan

Kiai Haji Ahmad Dahlan
Pendiri Muhammadiyah dan Pahlawan Nasional
Lahir: Yogyakarta, 1 Agustus 1868
Wafat: Yogyakarta, 23 Februari 1923

KH Ahmad Dahlan muncul sebagai seorang pembaru. Pada 12 November 1912, dia mendirikan Muhammadiyah, sebuah organisasi kemasyarakatan yang kini antara lain memiliki 177 perguruan tinggi dan 104 rumah sakit. Sosok yang mempunyai nama kecil Muhammad Darwis ini lebih mementingkan amal daripada ritual. Sebuah ranting Muhammadiyah dilarang berdiri sebelum memiliki amal usaha.

Dahlan lahir di Yogyakarta pada 1 Agustus 1868. Ayahnya, KH Abu Bakar, seorang khatib terkemuka di Kasultanan Yogyakarta. Ketika memasuki remaja, tepatnya saat berusia 15 tahun, Dahlan menunaikan ibadah haji dan menetap di Mekkah selama lima tahun.

Dalam kurun waktu itu, dia banyak bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran progresif kala itu, seperti Rasyid Ridha, Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, dan Al-Afghani. Sepulang dari Mekkah itulah dia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Tahun 1903, dia kembali ke Mekkah dan berguru kepada Syekh Ahmad Khatib, dia tak lain ulama kelahiran tanah Minang yang menjabat sebagai kepala imam sekolah ajaran Syafi’i di Masjidil Haram.

Muhammadiyah telah mendorong masyarakat untuk terus belajar dan beramal dengan dasar keislaman.

Pemerintah Indonesia mengangkat KH Ahmad Dahlan sebagai pahlawan nasional pada 1961 lewat Surat Keputusan Presiden No 657 Tahun 1961. Dia dinilai turut membangkitkan pembaruan Islam dan pendidikan melalui organisasi Muhammadiyah berikut organisasi otonom di bawahnya. Muhammadiyah telah mendorong masyarakat untuk terus belajar dan beramal dengan dasar keislaman.